Peran Dokter Menangani Penderita Kusta di Tengah Pandemi

Peran dokter menjadi penting di tengah situasi pandemi saat ini. Terlebih untuk menangani penderita kusta. Menurut data Kementrian Kesehatan RI,  terdapat beberapa daerah yaitu sejumlah 110 kabupaten kota pada berbagai provinsi yang belum mencapai eliminasi penyakit kusta.

Itu artinya tingkat penurunan angka penyakit kusta masih rendah. Walaupun demikian jika dilihat sebaran data secara provinsi, Indonesia telah mencapai status eliminasi kusta. Ini terlihat dari angka prevalensinya yang kurang dari 1 per 10.000 penduduk. Namun beberapa provinsi seperti; Sulawesi Utara, Papua dan Papua Barat untuk beberapa kabupaten dan kotanya tren angka prevalensinya masih di atas 1 per 10.000 penduduk.

Pada hari Jumat 29 Oktober 2021 NLR bersama ruang publik KBR mengadakan talkshow Live YouTube dengan tema “Lika Liku Peran Dokter di Tengah Pandemi” Diskusi kali ini menghadirkan dua narasumber yaitu;dr. Ardiansyah selaku Pengurus Ikatan Dokter Indonesia dan dr. Udeng Daman selaku Technical Advisor NLR Indonesia.

Peran dokter
Talkshow ” Lika Liku Peran Dokter di Tengah Pandemi” | NLR Indonesia dan KBR

Peran dokter

Situasi pandemi yang sudah berjalan dua tahun terakhir telah menyita banyak perhatian semua pihak. Terutama bagi tenaga kesehatan seperti dokter yang merawat pasien penderita Covid-19. Banyak dokter akhirnya ikut terpapar bahkan menjadi korban jiwa akibat terpapar virus C-19.

Persoalan semakin pelik karena tanpa adanya pandemi pun, rasio kecukupan dokter untuk melayani masyarakat masih jauh dari standar. Menurut standar WHO rasio kecukupan dokter melayani masyarakat idealnya 1 : 1000. Pelayanannya mulai dari layanan kesehatan primer dimulai dari (klinik, puskesmas) hingga sekunder (rumah sakit).

“Untuk 270 juta rakyat Indonesia seharusnya ada 270.ribu dokter yang melayani. Namun hingga hari ini angka sebaran layanan dokter di seluruh wilayah Indonesia masih kekurangan 70 ribu tenaga dokter,” demikian pernyataan dari dr. Ardiansyah selaku Pengurus Ikatan Dokter Indonesia.

Sebaran dokter yang belum merata ini disebabkan lamanya jenjang pendidikan kedokteran di Indonesia yang harus dilalui para dokter. Selain itu distribusi dokter yang belum merata disebabkan belum adanya jaminan keamanan, kesehatan dan pendidikan untuk keluarga jika ikut serta mendampingi dokter di pedalaman.

Tentang NLR

NLR tidak mempunyai akronim. NLR merupakan lembaga non pemerintah yang didirikan di Belanda pada tahun 1967 dan bertujuan untuk menanggulangi penyakit kusta. NLR bekerjasama dengan pemerintah Indonesia sejak tahun 1975.

Sejak tahun 2018 NLR Indonesia berubah menjadi yayasan nasional. Yayasan NLR Indonesia giat mempromosikan program kerja secara efisien yang bertujuan menuju Indonesia bebas kusta. Terdapat tiga pendekatan dalam program kerja NLR yaitu zero transmission (nihil penularan), zero disability (nihil disabilitas) dan zero exclusion (nihil eksklusi)

Untuk mempercepat tujuan tersebut, Yayasan NLR bermitra dengan sejumlah organisasi. Diantaranya organisasi yang menaungi penyandang disabilitas, organisasi masayarakat sipil, institusi pendidikan serta lembaga pemerintah. NLR mempunyai slogan: Hingga kita bebas dari kusta.

Riwayat Penyakit Kusta

“Wah kenapa ya..tangan orang itu kok buntung?” guman saya ketika pertama kali bertemu penderita kusta yang sudah sembuh. Peristiwa itu terjadi saat pertama kali saya yang waktu itu masih duduk di SMA bertemu dengan Pak Seno, seorang mantan penderita kusta.

Seiring berjalannya waktu saya menjadi paham jika Pak Seno pernah menderita penyakit kusta. Namun karena beliau terlambat mendapatkan pengobatan maka bakteri dari penyakit kusta akhirnya menggerogoti tangan beliau sampai buntung.

Kusta adalah penyakit yang disebabkan bakteri mycobacterium leprae. Jika bakteri ini dibiarkan maka akan menyebabkan masalah pada area saraf, kulit, sensor motorik dan mata. Penularan penyakit kusta bisa terjadi melalui media pernapasan jika terjadi kontak secara terus menerus. Namun jika hanya melalui sentuhan sekali sampai dua kali maka bakteri kusta tidak menular.

Resiko pada orang sehat dapat terkena kusta jika daya tahan tubuh sedang dalam kondisi menurun. Adapun gejala penyakit kusta sebagai berikut;
1. Terdapat bercak kemerahan atau bercak putih seperti panu atau penyakit kulit.
2. Pada bagian lengan dan kaki terasa kebal akibat sarafnya mengalami kerusakan
3. Jika dibiarkan otot pada tangan dan kaki akan mengalami kelumpuhan
4. Semakin lama indra penglihatan tidak bisa melihat dengan jelas bahkan mengarah pada kebutaan.

Menurut dr. Udeng Daman, “Penyakit kusta yang disebabkan bakteri dapat terjadi pada suatu daerah dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi.” Selain itu faktor kebersihan lingkungan dan sanitasi buruk menyebabkan bakteri penyakit kusta lebih cepat berkembang biak.

Pengobatan Penderita Kusta

Orang yang sudah terpapar bakteri kusta harus segera mendapatkan pengobatan. Ini dilakukan supaya bakteri kusta tidak semakin ganas yang berakibat mengganggu kinerja tubuh.

Pengobatan penyakit kusta disediakan gratis oleh pemerintah. Obatnya tersedia pada layanan kesehatan primer yaitu puskesmas. Pengobatan menggunakan multi-drug-therapy (MDT). Pengobatan sendiri membutuhkan waktu 6 hingga 12 bulan.

Pengobatan Kusta di Era Pandemi

Umumnya orang menyembunyikan penyakit kusta karena rasa malu, sehingga lambat memeriksakan diri. Sebelum pandemi usaha tenaga kesehatan untuk melakukan penyisiran terhadap orang yang menderita kusta sangat comprehensif.

Tenaga kesehatan turun ke lapangan memberikan edukasi pola hidup bersih supaya terhindar dari bakteri kusta. Selain itu tenaga kesehatan memberikan arahan supaya penderita kusta mau diobati dan datang ke layanan primer seperti puskesmas.

Sebagian pasien kusta atas kesadaran sendiri bersedia datang secara sukarela ke puskesmas untuk memeriksakan diri. Namun petugas kesehatan juga harus menyisir lingkungan sekitar dari pasien kusta tersebut. Jika daerah tersebut pernah ada surveillance penderita kusta maka harus diawasi prevalensinya.

Saat pandemi, layanan kesehatan mempunyai beban tugas berat untuk menolong penderita C-19. Akibatnya penderita penyakit kusta sering terabaikan dan tidak terdeteksi lagi. Hal ini disebabkan pembatasan kegiatan yang berimbas pada terbatasnya mobilitas orang untuk mendatangi banyak wilayah.

Saran dari NLR untuk Pengobatan Kusta di Era Pandemi

Semua fasilitas kesehatan baik puskesmas maupun klinik harus dapat dan bersedia melayani pasien dengan gejala penyakit kusta. Dokter umum pada klinik swasta harus mampu mendeteksi sedini mungkin gejala penyakit kusta pada pasien. Jika obat untuk penderita penyakit kusta tidak tersedia maka dapat dibuat rujukan ke layanan primer (puskesmas) terlebih dahulu.

Menyikapi situasi pandemi yang membatasi kegiatan maka layanan telemedicine dapat difungsikan sebagai layanan konsultasi awal anatara pasien dan dokter untuk mendeteksi penyakit kusta. Misalnya pasien mengeluhkan bercak kulit berikut mati rasa pada bagian tangan atau kaki. Selanjutnya pada konsultasi awal dengan dokter melalui telemedicine dapat ditegakkan diagnosa sementara apakah termasuk penyakit kusta atau bukan.

Setelahnya dapat membuat temu janji untuk pemeriksaan lanjutan. Deteksi bakteri kusta efektif jika dilihat secara langsung oleh dokter. Oleh karena itu kedatangan pasien penderita kusta ke layanan fasilitas kesehatan sangat penting supaya dokter dapat menegakkan diagnosa dengan benar.

Untuk tenaga kesehatan khususnya dokter umum yang ditugaskan di daerah terpencil sebaiknya menjalankan kemitraan dengan pihak. Tujuannya untuk menyebarkan informasi mengenai penyakit kusta. Bisa bekerja sama dengan tokoh masyarakat maupun pemuka agama setempat.

Peran dokter juga dapat memberdayakan masyarakat melalui komunitas seperti ibu-ibu PKK untuk selalu membiasakan pola hidup sehat dan bersih. Mengajak masyarakat lebih peduli dengan kondisi kesehatan warga lingkungannya.

Contohnya jika dilingkungannya ada salah satu warga yang terkena bakteri kusta, masayarakat sekitar hendaknya memberikan support untuk menjalani pengobatan di fasilitas layanan kesehatan primer (puskesmas). Masyarakat diedukasi bahwa kusta tidak berbahaya jika segera mendapatkan pengobatan.

Kesimpulan

Harapannya semoga pada tahun – tahun yang akan datang semua wilayah kota dan kabupaten serta provinsi di Indonesia angka prevalensi kustanya semakin menurun hingga tercapai Indonesia bebas kusta. Demikian review mengenai peran dokter menangani penderita kusta di tengah pandemi. Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan.

Salam

Leave a Comment