“Buku adalah jendela dunia di mana kita bisa melihat isi dunia tanpa melakukan perjalanan, hanya cukup membaca sebuah halaman.”
Sayangnya generasi sekarang tumbuh dengan kebiasaan scrolling bukan reading. Sebagian generasi sekarang beranggapan membaca buku cetak adalah kegiatan yang membosankan. Namun menonton video berdurasi satu menit dianggap kegiatan yang jauh lebih menarik.
Akibatnya, kebiasaan membaca buku cetak yang dulu menjadi dasar pengetahuan mulai tergeser oleh pola konsumsi informasi yang serba cepat dalam media online.
Tayangan Visual Lebih Menarik
Tidak bisa disangkal jika tayangan visual lebih cepat mearik perhatian sekaligus lebih cepat dipahami dengan kemampuan berpikir yang sangat sederhana.
Maka dari itu tidak mengherankan jika sebagian kemampuan membaca dan menulis generasi sekarang sangat rendah kalau tidak mau dikatakan menurun sama sekali.
Banyak fenomena anak lulusan sekolah menengah masih kurang lancar membaca dan menulis. Namun yang mengejutkan anak-anak tersebut sangat lihai menggunakan teknologi kekinian.
Digitalisasi membuat informasi begitu mudah diakses. Namun, di sisi lain, kebiasaan membaca secara mendalam perlahan mulai hilang. Banyak orang hanya membaca headline, tanpa memahami isi dan konteksnya.
Apalagi sekarang era platform media sosial. Platform seperti TikTok, Instagram dan YouTube telah mengubah cara manusia menerima informasi.
Otak manusia kini lebih terbiasa dengan gambar bergerak dan suara cepat bukan deretan kalimat panjang. Hal ini membuat buku fisik dan artikel panjang terasa “berat”.
Membaca adalah Tantangan
Membaca satu halaman penuh sekarang dianggap sebuah tantangan bagi sebagian orang. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis dan analisis menurun. Orang lebih cepat bereaksi daripada memahami, lebih mudah berdebat daripada mendalami.
Masalah minat baca sebenarnya bukan hanya milik generasi muda. Di banyak tempat, minat membaca masih dianggap kegiatan akademik bukan suatu gaya hidup.
Perpustakaan sepi, toko buku berguguran dan kegiatan literasi sering kali hanya ramai pada momen tertentu.
Ironisnya di tengah era dengan akses informasi tanpa batas, kita justru semakin jarang benar-benar membaca.
Masalah di atas terdapat merata pada kota-kota besar di Indonesia. Padahal akses untuk melakukan kegiatan membaca dan menulis sangat mudah didapatkan.
Di kota besar lembaga pendidikan formal maupun non formal seperti taman baca, komunitas baca, kursus baca tulis sangat banyak.
Pertanyaannya bagaimana dengan saudara sebangsa dan setanah air nun jauh di kepualuan yang minim akses dalam mengupayakan tumbuhnya minat baca dan tulis?

Ramsyah Al Akhab
Ramsyah Al Akhab berasal dari Kepulauan Bangka Belitung. Selain penggiat literasi, ia penggerak yang menyalakan semangat membaca dan menulis.
Ramsyah Al Akhab senang senang membaca dan menulis dari sejak kanak – kanan. Kegemaran membaca dan menulis dimulai dari beberapa buku, puisi, opini maupun bentuk tulisan lainnya.
Hal ini diperkuat dengan keaktifannya pada Lembaga Pers Mahasiswa se-Bangka Belitung. Ramsyah Al Akhab saat itu juga menduduki posisi sebagai sekretaris Jenderal.
Dari kebiasaan itu, tumbuh niat kuat untuk berbagi, bagaimana jika anak-anak lain di Bangka Belitung juga bisa merasakan keajaiban yang sama dari membaca?
Sejak itu Ramsyah Al Akhab mendirikan Komunitas Aksara Muda (Kosada) Bangka Belitung dan mulai menyediakan bahan bacaan di lapak baca.
Keberadaan Lapak Baca sendiri secara resmi mulai digelar sejak tahun 2023 dan terus dilakukan hingga sekarang.
Peserta Lapak Baca sendiri cukup beragam mulai dari mahasiswa, masyarakat umum, sesama pegiat literasi bahkan terbuka untuk anak-anak yang sudah bisa membaca.
Semakin lama kegiatan yang dilakukan tidak sekedar membaca namun meluas menjadi diskusi opini, puisi, cerpen dan isu-isu yang sedang ramai. Di lapak baca ini juga semakin kreatif dengan belajar menulis bersama.
Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards
Ramsyah Al Akhab adalah seorang pemuda kelahiran tahun 1999 dari Desa Kelapa, Kabupaten Bangka Barat.
Sebagai anak muda ia mempunyai pendapat,“membaca sudah seharusnya menjadi kebiasaan masyarakat.”
Berkat kegigihannya membuat inovasi Lapak Baca, Ramsyah Al Akhab diganjar penghargaan SATU Indonesia Awards di tahun 2024 di bidang pendidikan dengan judul kegiatan “Diskusi Buku dan Lapak Baca.”
Satu Indonesia Awards merupakan ajang apresiasi tahunan yang diselenggarakan oleh PT. ASTRA International Tbk.
Penghargaan ini diberikan pada anak muda yang mempunyai inovasi dalam berbagai bidang yaitu pendidikan, teknologi, lingkungan dan kewirausahaan dan kesehatan.
Sosok Ramsyah Al Akhab membuktikan bahwa semangat perubahan bisa dimulai dari tindakan kecil.
Mulailah dengan satu buku, satu anak dan satu langkah. Dari pulau kecil di timur Sumatera, api literasi mulai menyala terang untuk menerangi ke seluruh penjuru negeri.
Gerakan Ramsyah menjadi pengingat bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca melainkan kekuatan untuk memahami, berpikir dan mencipta.
Di tengah gempuran teknologi, perjuangan seperti inilah yang menjaga manusia tetap berakar pada nilai pengetahuan dan kemanusiaan

Kesimpulan
Rendahnya minat baca di era digital bukan tanda kemunduran, melainkan sinyal bahwa cara kita berinteraksi dengan informasi perlu berevolusi.
Kuncinya adalah adaptasi untuk menjadikan literasi lebih menarik, relevan dan mudah diakses.
Masa depan literasi bukan tentang memilih antara buku atau gadget melainkan bagaimana kita menjadikan keduanya sebagai sarana untuk tumbuh dan memahami dunia dengan lebih bijak.
#APA2025-PLM
Referensi :
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2025/09/03/perjalanan-ramsyah-al-akhab-menumbuhkan-minat-baca-di-bangka-belitung
https://inikerja.com/lewat-diskusi-buku-dan-lapak-baca-ramsyah-al-akhab-ajak-anak-muda-babel-cinta-literasi/
https://www.instagram.com/ramsyah_al_akhab
Wawancara online dengan Ramsyah Al Akhab

Seorang blogger yang senang bercerita melalui tulisan mengenai kegiatan sehari-hari yang berhubungan dengan lifestyle khususnya tips, keuangan, kecantikan, review produk dan teknologi