Short Film Competition Bangkitkan Asa Industri Perfilman

Industri perfilman mendapat kabar baik ketika short film competition mulai digelar. Kegiatan ini dinamakan Sundance Film Festival: Asia 2021. Acara yang diprakarsai oleh Sundance Institute dan XRM Media terselenggara dengan dukungan dari IDN Media. Jadwal acara diadakan pada tanggal 23 – 26 September 2021. Untuk pelaksanaan acara akan diselenggarakan secara virtual.

Pernyataan William Utomo | sundance.co

Short Film Competition

Karya film cerita fiksi dengan gambar bergerak yang berdurasi kurang dari 60 menit disebut film pendek. Biasanya film pendek dijadikan wahana percobaan atau eksperimen bagi pembuat film panjang. Jadi jika film pendek berhasil mendapatkan animo dari penonton maka pembuat film pendek menjadi percaya diri membuat film berdurasi waktu panjang. Untuk membangkitkan asa industri perfilman maka dibuatlah “Short Film Competition”

Awal Mula Sundance Film Festival

Sundance Institute didirikan tahun 1981 oleh Robert Redford di Amerika Serikat. Program utamanya menyatukan para seniman supaya dapat bertukar pengalaman dalam satu ruang kreatif. Para seniman dan penonton juga dapat terhubung melalui platform komunitas digital bernama Sundance Co.

Kegiatan Sundance Film Festival Asia 2021

Gelaran Sundance Film Festival berisi pemutaran film pendek, Asia intensive program dan diskusi panel. Ragam film pendek yang ditampilkan dapat ditonton secara online dengan membeli tiket digital. Penjualan tiket digital tersedia dan dapat dibeli mulai 15 September 2021. Tempat pembelian tiket di Sundance Film Festival Asia.org

Pernyataan Kim Yutani, Direktur Pemrograman di Sundance Film Festival | sundance.co

Khusus Audiens Indonesia

Sebanyak delapan film telah lolos kurasi dan masuk ajang gelaran Sundance Film Festival: Asia 2021. Adapun film yang diputar terdiri dari empat film naratif dan empat film dokumenter. Semua film ini khusus diputar untuk audiens Indonesia.

Asia Intensive Program

Festival ini menyelenggarakan pelatihan intensif untuk menjangkau komunitas regional. Kegiatan dirancang secara personal dengan tujuan menemukan bakat baru di Asia Tenggara. Beberapa filmmaker yang telah mendaftar dan terpilih berasal dari berbagai negara.

Untuk Indonesia diwakili oleh Lucky Kuswandi, Rochelle Kalangie dan Khozy Rizal. Untuk Filipina diwakili oleh Sonny Calvento. Sedangkan Singapura diwakili oleh Kris Ong. Perwakilan dari Kamboja diwakili oleh Lomorpich Rithy.

Diskusi Panel dan Tujuannya

Selain pemutaran film, gelaran festival juga mengadakan diskusi panel dengan narasumber pembicara dari komunitas film lokal dan global. Media diskusi diselenggarakan pada platform TikTok @SundanceFFAsia dan Sundance Collab.

Tujuan dari panel diskusi untuk membina talenta insan perfilman di Asia Tenggara. Saat sesi diskusi pembuat film terkenal seperti Mira Lesmana, Angga Sasongko dan Chand Parwez Servia akan berbagi pengalaman bagaimana cara bertahan di industri perfilman.

Selain itu ada diskusi dengan topik “Woman in Film Industry“. Diskusi ini membahas pengalaman perempuan dapat bertahan dilingkungan industri perfilman yang didominasi laki-laki. Narasumber perempuan pembuat film seperti Nia Dinata (Berbagi Suami), produser Susanti Dewi (Moammar Emka’s Jakarta Undercover) dan penulis naskah (Habibie & Ainun) Gina S. Noer.

Short Film Competition
Pemutaran film pendek berjudul “Passing” | sundancefilmfestivalasia.org

Narasumber Global

Tak ketinggalan pembicara industri film dari luar negeri ikut andil dalam sesi diskusi panel seperti Sue Turley (SVP of XRM Media) dan Amanda Salazar (Head of Programming and Acquisitions of Argo). Pada sesi diskusi, pembuat film ternama seperti Joko Anwar berbagi pengalaman mengenai perjuangan unjuk hasil karya ke berbagai festival film untuk mendapat pengakuan.

Untuk film dokumenter terdapat narasumber filmmaker seperti Rintu Thomas dan kawan-kawan yang berbagai pengalaman. Para pembuat film dokumenter menceritakan benefit yang didapat ketika memperkenalkan karya mereka melalui festival film online.

Beberapa nama terdiri dari sutradara dan produser film pendek kontemporer Indonesia. Mereka bebagi cara bagaimana film pendek dapat menembus panggung internasional. Karya terbaik yang mendapat apresiasi dunia ditunjukkan pada film “Kado” yang disutradarai Aditya Ahmad dan film “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas “dengan produser Meiske Tauirisia.

Media Diskusi

Media diskusi panel dari Sundance Festival 2021 disiarkan secara langsung di TikTok (@SundanceFFAsia). Waktu diskusinya dijadwalkan pada hari Kamis 23 September 2021, pukul 11.00 WIB – 15.00 WIB. Diskusi selanjutnya melalui media yang sama dijadwalkan pada hari Jumat 24 September 2021, pukul 15.00 wib.

Pada akhir diskusi panel akan ada pengumuman “Best Short Film Jury Award for the Short Film Competition.” Jury Awardee dan Honorary Mentions akan memilih 10 finalis dari 160 film pendek yang sudah diseleksi. Pengumuman ini bersamaan dengan Honorary Mention yang disiarkan di TikTok Live streaming (@SundanceFFAsia) pada hari Sabru 25 September 2021.

Dukungan Banyak Pihak

Sundance Film Festival: Asia 2021 terselenggara berkat dukungan dari IDN Media, XRM Media dan Argo. IDN Media adalah media platform untuk Milenial dan Gen Z Indonesia. XRM Media adalah perusahaan hiburan dan teknologi yang didedikasikan memproduksi dan mendanai konten multikultural bekerjasama dengan mitra global. Kemampuan XRM Media sebagai media anti–mainstream teruji karena dapat menghubungkan audiens global dengan karya film yang berpengaruh kuat.

Begitu juga platform streaming Argo sebagai pendukung Sundance Film Festival: Asia 2021 berkontribusi dengan menjamin hak komersial pembuat film. Pihak Argo memastikan pembuat film dapat membuat karya maksimal dan menginspirasi tanpa kehilangan hak komersial. Pada akhirnya pembuat film akan mendapat perlindungan sepenuhnya.

Demikian review Sundance Film Festival: Asia 2021. Semoga informasi ini bermanfaat.

Leave a Comment